Senin, 29 April 2013

Reformed And History part 2


Prinsip Reformed ketiga: Sola Fide (Hanya Iman). Kita percaya hanya dengan iman kita dapat datang kepada Tuhan, tidak ada jalan syarat. Firman anugerah tiba pada seseorang lalu orang tersebut menerima Firman anugerah dengan lembut hati maka akhirnya tumbuhlah iman, itulah “syarat,” kalaupun masih ingin memakai kata “syarat”. Tidak ada cara memperkenankan hati Tuhan, kecuali melalui iman. Itulah Sola Fide. Konsep iman dalam pemikiran Martin Luther yang begitu tajam sangat mengagumkan saya. Baginya iman adalahthe acceptance of the acceptance (penerimaan atas penerimaan). Iman berarti saya menerima anugerah Allah, bahwa siapa yang menerima Yesus sebagai Juruselamat yaitu yang percaya kepada nama-Nya, dia diberikan hidup yang kekal. Iman berarti membuka hati menerima penerimaan Allah. Menerima penerimaan artinya menerima satu fakta yang tidak mungkin. Ini disebut mission impossible. Iman yang mustahil, tetapi dimungkinkan oleh Allah ketika saudara diterangi dan bisa mengerti rahasia iman ini—rahasia bahwa Tuhan mau menerima saya. Saya menerima bahwa Tuhan sudah menerima saya. Itulah iman dalam pikiran Luther. Di dalam hal ini Luther melampaui Calvin.

Iman kepercayaan dalam bahasa Latin: pistos, artinya setia kepada aslinya. Dalam buku saya, saya mengatakan yang disebut iman adalah setia kepada kebenaran. Berbeda dari definisi Calvin, Luther, Katholik, saya menemukan apa yang disebut dengan fidelity:Kesetiaan terhadap yang asli. Ketika rasio kita, yang sudah menjadi anak terhilang, kacau balau, berkeliaran, dan sekarang kembali kepada kebenaran, setia kepada kebenaran, itulah iman. Tapi Luther mengatakan penerimaan atas penerimaan yaitu bahwa saya menerima satu fakta bahwa Tuhan menerima saya. Saya yang begitu rusak dan Tuhan terima. Tuhan kini bertanya, “Sekarang maukah kamu percaya?” Jawaban saya: “Saya menerima fakta yang tidak mungkin, tetapi sudah terjadi, maka aku bersyukur dan menerima.” Itulah iman.
Orang yang mengerti pengertian iman sedemikian, mungkinkah akan merajalela dalam gereja, mungkinkah ia sombong mau merebut kemuliaan, mungkinkah akan sembarangan menindas orang lain, sombong menyatakan lebih kaya, lebih hebat, lalu meminta hak status istimewa di dalam gereja? Bolehkah orang yang mau melayani tidak mau datang ke persekutuan doa karena terlalu sibuk? Yesus Anak Allah berdoa sepanjang malam baru melakukan pelayanan dan memilih murid, sampai akhirnya naik ke atas salib. Anak Allah setiap hari berlutut, sedangkan kita menganggap diri kelas superior. Kita sering menganggap diri luar biasa di dalam gerakan Reformed. Biarlah kita hancurkan kecongkakan semacam itu dan kita belajar merendahkan diri. Saya memimpikan kemuliaan Tuhan tercapai bukan di luar tapi di dalam kekristenan. Banyak orang mengatakan, “Aku hidup untuk Tuhan.” Betulkah kita hidup untuk Tuhan? Betulkah kita sungguh-sungguh mengabdi untuk Tuhan? Di mana dapat dilihat hal tersebut? Kita harus mengembalikan yang terbaik untuk Tuhan. Kita semua hanya diberi anugerah saja.
Gerakan Reformed Injili ini adalah gerakan yang sangat mahal, tetapi saya memakai uang paling sedikit untuk menghasilkan hasil sebaik mungkin; dengan waktu sesedikit mungkin bekerja sebanyak mungkin; dengan kesehatan sedikit bekerja seberat mungkin, dengan orang yang sedikit bisa mempengaruhi sebanyak mungkin orang, dengan kesempatan yang paling minim bisa mempengaruhi sebesar mungkin demi kemuliaan Tuhan. Ini prinsip“squeeze-isme” (diperas sampai keluar minyaknya).
Jikalau saudara menyadari besarnya anugerah Tuhan, apa yang saudara akan kerjakan? Apakah saudara tamak, atau mau berbagi? Sangkallah diri untuk kemuliaan Allah dan jadilah berkat bagi sesama. Gerakan Reformed tidak boleh berhenti, harus terus berjuang, karena Kekristenan sudah tidak mungkin diwakili oleh orang Liberal yang sudah menjual iman, tidak mungkin diwakili oleh orang Pantekosta Kharismatik yang menginjak-injak doktrin, tidak mungkin diwakili oleh orang Injili yang tidak mengerti mandat budaya.
Prinsip yang terakhir: Soli Deo Gloria (Segala kemuliaan bagi Allah). Memuliakan nama Tuhan bukan memuliakan politik, orang kaya, orang pintar tetapi memuliakan yang menciptakan kekayaan, yang memberikan kepintaran, yang menguasai segala raja. Yesus Kristus yang pernah dihina, diejek, dilahirkan di palungan, dipaku di kayu salib, diperlakukan tidak adil, dikutuk, dimatikan dengan ditusuk kedua tangan dan kaki-Nya, yang menderita sengsara paling dalam dan paling kejam di atas salib, Dialah yang patut dimuliakan. Kita harus hidup hanya untuk memuliakan Tuhan. Mari kita tidak bermain-main dan berespon kepada Tuhan. Amin.

Reformed And History part 1


NREC Sesi ke-3, 28 Desember 2004

Di dalam sejarah Reformasi, Tuhan membangkitkan dua orang, yang satu untuk merobohkan yang salah dan yang satu untuk membangun yang benar. Tuhan memakai Martin Luther untuk merobohkan yang salah dan Johanes Calvin untuk membangun yang benar. Ini yang disebut sebagai Reformed.
Johanes Calvin mengadopsi beberapa prinsip paling besar Martin Luther, yaitu: pertama,Sola Scriptura (Hanya Alkitab). Artinya kita jangan melihat filsafat lebih tinggi dari Kitab Suci, atau psikologi lebih tinggi dari Kitab Suci. Jangan melihat pendidikan lebih tinggi dari Theologi atau melihat politik lebih tinggi dari Theologi. Banyak pemerintah, demi kelancaran pemerintahan, ingin semua agama berada di bawah mereka. Mereka mau menjadi allahnya Allah. Dari sejarah kita belajar bahwa semua politikus menganggap semua agama harus taat kepada dia, termasuk Komunisme sekarang.
Prinsip yang kita pegang ini adalah prinsip yang ada pada jiwa orang-orang seperti Yesaya, Yeremia, Daniel, Yehezkiel, Yohanes Pembaptis, dan Paulus. Yesaya dipanggil pada waktu raja Uzia wafat. Yesaya masuk ke Bait Allah dan melihat Allah duduk di atas takhta-Nya, dan kemuliaan-Nya memenuhi seluruh bumi. Inilah iman Kristen. Tuhan lebih tinggi dari presiden. Tuhan lebih tinggi dari Mao Zedong. Siapa yang engkau sembah atau layani? Engkau kelihatan seperti menyembah Tuhan, tetapi ekor hatimu bergoyang-goyang untuk mencari kesenangan manusia, maka engkau bukan Reformed, mungkin hanya anggota Gereja Reformed. Demikian Yehezkiel, Daniel, satu persatu dianiaya dan Yohanes Pembaptis dipenggal kepalanya, karena mereka mempertahankan kedaulatan Allah, takhta Yahweh, kuasa Raja di atas segala raja. Ini ajaran Reformed. Hanya Alkitab saja. Jangan Alkitab dicampuri filsafat dan jangan menafsirkan Alkitab melalui psikologi. Alkitab harus independen. Sola Scriptura berarti jangan mengerti Alkitab melalui politik, jangan menafsir Alkitab melalui teori-teori manusia.
Prinsip Reformed kedua: Sola Gratia (Hanya Anugerah). Kita diselamatkan hanya berdasarkan anugerah tanpa sedikit pun jasa manusia. Di dalam gereja jangan ada orang berpikir kalau tidak ada dia, gereja akan roboh. Kalau seorang merasa berjasa, ia mengajak Tuhan bekerja sama. Tuhan memberi anugerah dan saya mengeluarkan iman, maka ada kerjasama. Tidak! Semua adalah anugerah, termasuk kita bisa beriman pun adalah karena Firman Tuhan ditanamkan di dalam hati kita dan akhirnya Firman yang menjadi benih menghasilkan buah yang namanya iman. Jadi semua merupakan anugerah Tuhan.
Kita bisa berkhotbah adalah anugerah Tuhan, kita bisa main piano adalah anugerah Tuhan, kita bisa melayani adalah anugerah Tuhan. Kita bisa menjadi majelis adalah anugerah Tuhan, kita bisa bersaksi adalah anugerah Tuhan, kita bisa pergi menginjili adalah anugerah Tuhan. Kita masih hidup adalah anugerah Tuhan, kita masih sehat adalah anugerah Tuhan. Kalau Tuhan marah, satu detik saja cukup untuk menghanguskan dunia ini, dan menjadikan kita ini debu. Tidak ada orang yang patut sombong. Orang kaya jangan bermegah karena kekayaannya, orang pintar jangan bermegah membanggakan kepintarannya, orang berkuasa jangan membanggakan jabatannya. Perkataan nabi Yeremia ini dia simpulkan dalam satu kalimat: “Jikalau engkau bermegah, bermegahlah demi Tuhan” (Yer. 9:23-24). Ini ayat-ayat yang dikutip oleh Paulus di dalam Roma: “Barangsiapa bangga, banggalah dengan menuju kepada Tuhan, waktu engkau menunjuk, menunjuklah kepada Tuhan karena kita sadar bahwa tidak ada yang bisa kita banggakan.“
Tiga prinsip yang mendasari konsep anugerah: 1) Tidak ada jasa manusia sedikit pun; 2) Tidak ada perbuatan baik, dan 3) Tidak ada kelayakan pada diri manusia. Anugerah hanya berdasarkan bijaksana, kedaulatan, rahasia, kemurahan Tuhan dan kerelaan-Nya mau membagikan anugerah kepada siapa Ia mau memberi.

7 Perkataan Salib part 2


Kemudian Kristus mengatakan, “Aku haus!” Ini merupakan perkataan Kristus yang sulit untuk dijelaskan. Pdt. Stephen Tong memulai bab ini dengan berbagai pertanyaan yang membuat kita semakin menyadari besarnya tantangan dalam memahami kalimat ini. Apakah arti dari perkataan ini? Siapa yang berkata? Kepada siapa? Apakah Kristus sedang meminta minuman untuk melepaskan dahaga-Nya? Mengapa Kristus yang menjanjikan air hidup, sekarang mengatakan hal ini? Bukankan ini paradoks? Namun kenyataannya, tidak ada jawaban mengenai perkataan Yesus ini. Sebab ini bukan merupakan permintaan, ini adalah suatu pernyataan! Perkataan ini menunjukkan kemanusiaan Kristus dan penderitaan yang sungguh-sungguh. Tidak ada seorang pun yang mampu mengerti kehausan macam apa yang dialami Kristus. Keadaan haus yang tidak terbayangkan ini harus dialami Kristus agar Ia dapat menjadi air hidup yang sesungguhnya. Siapa pun yang haus, hendaklah Ia datang kepada Kristus. Pernyataan “Aku haus” adalah seruan kehausan yang menghentikan segala kehausan.

Setelah itu Ia mengatakan, “Tetelesthai!” Setelah menjalankan ketaatan menuju kesengsaraan terakhir di Golgota, harus dimengerti bahwa Golgota bukanlah titik akhir perjalanan Kristus, melainkan suatu proses menuju kebangkitan. Yesus baru dapat mengatakan tetelesthai setelah mengatakan Eli Eli lama sabakthani, setelah mengalami sengsara dan kematian. Kalimat keenam ini menyatakan kemenangan total. Karena Kristus yang taat maka barangsiapa menerima Kristus akan diterima oleh Allah. Saat Kristus mengucapkan kalimat inilah, Allah Bapa melihat ketaatan tuntas dari Hamba-Nya yang mengganti dosa manusia.
“Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Inilah kalimat terakhir dari Kristus ketika terpaku di atas kayu salib. Jadi, jelaslah bahwa jiwa Kristus bukan dirampas dan ditelan kematian. Ia secara aktif menyerahkan nyawa-Nya.
Jadi, sudah jelas bahwa tema utama dari buku ini adalah membahas tulang sumsum ajaran Kristen, yakni kematian Kristus di atas kayu salib. Dengan demikian, buku ini wajib dimengerti oleh setiap orang percaya. Biarlah kita semakin menyadari signifikansi arti kematian Kristus di atas kayu salib, memahami setiap detail dari arti peristiwa yang terjadi pada saat penyaliban, dan dapat mengaitkannya dalam kehidupan kita. Pada akhirnya kita akan semakin gentar akan keadilan Tuhan, meninggikan cinta kasih Tuhan, dan saling menanggung beban serta resiko di hadapan Tuhan seumur hidup.

Juan Intan Kanggrawan
Pemuda GRII Singapura

7 Perkataan Salib Part 1


Salib adalah suatu simbol penderitaan, kehinaan, dan kutukan pada zaman Tuhan Yesus. Salib sering dipakai untuk menghukum mati penjahat-penjahat besar. Suara makian, umpatan, dan jeritan merupakan hal yang lumrah dan kerap kali terdengar dari mulut orang yang disiksa di atas kayu salib. Namun, Alkitab mencatat bahwa ketika Kristus disalibkan, Ia mengucapkan tujuh kalimat yang sangat berbeda dengan yang pada umumnya dilontarkan oleh orang yang tersiksa di atas kayu salib. Melalui buku “7 Perkataan Salib” ini, Pdt. Dr. Stephen Tong mengupas secara mendalam arti dari setiap kalimat yang keluar dari mulut Kristus pada momen tersebut sehingga kita dapat semakin memahami keagungan jiwa dari Yesus Kristus dan kebesaran rencana penebusan Allah.

Di saat paling lelah secara fisik setelah tidak tidur semalaman, di dalam keadaan paling sengsara di mana sudah begitu banyak darah yang keluar dari tubuh-Nya, di saat paling tersendiri di mana seluruh keadilan, moral, dan politik menjadi gelap, terdengarlah perkataan-Nya yang pertama, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Perkataan pertama yang diawali dengan “Bapa” menunjukkan hubungan yang erat dengan Allah Bapa di surga. Dari kalimat ini, Ia juga menyatakan sifat Allah yang adalah kasih dan adil: cinta kasih yang sanggup membalikkan dan menghentikan murka Allah atas orang berdosa, dan keadilan yang menyatakan hukuman dan murka Allah atas dosa.
“Amin! Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di Firdaus.” Inilah kalimat kedua yang merupakan pernyataan Kristus terhadap pertobatan seorang perampok yang pada awalnya menghina Kristus. Kerap kali ketika kita membaca peristiwa ini, kualitas iman perampok ini tidak begitu kita perhatikan. Namun, buku ini menyatakan sesuatu yang sangat menarik. Jika dibandingkan dengan pengertian para rasul, maka pengertian perampok ini akan Kristus jauh lebih mendalam. Di saat sebagian besar rasul melarikan diri, perampok ini melihat kemuliaan dalam kekekalan Kristus dan mengetahui bahwa Kerajaan-Nya pasti datang. Pertobatan perampok ini juga semakin menegaskan bahwa dasar keselamatan yang diterima semata-mata adalah karena anugerah Allah, bukan karena hidup keagamaan dan jasa manusia.
Perkataan ketiga yang disampaikan Yesus di atas kayu salib adalah ketika Ia melihat para wanita, termasuk ibu-Nya, Maria, dan Yohanes yang berada di dekat-Nya. Yesus memandang kepada ibu-Nya, lalu berkata, ”Wanita, inilah anakmu.” Dalam hal ini, Yesus memilih istilah yang tepat. Yesus adalah pencipta semesta, termasuk Maria dan Yohanes. Kristus sebagai pencipta memberikan perintah kepada ciptaan-Nya. Kemudian, Yesus berpaling kepada Yohanes dan berkata, “Inilah ibumu.” Apakah arti dari perkataan Yesus kepada Yohanes? Artinya adalah agar setiap dari kita yang sudah menyadari akan cinta Tuhan, juga menanggung suatu beban tanggung jawab daripada Tuhan. Orang Kristen yang belum mengalami salib hanya mau kedudukan, tetapi setelah mengalami salib dan cinta Tuhan Yesus, ia meninggikan cinta kasih Tuhan dan menanggung beban serta resiko di hadapan Tuhan seumur hidup.
Setelah luka-luka yang mengalirkan darah begitu banyak, menganga, dan terpanggang sinar matahari sekian lama, maka sudah seharusnya tubuh menjadi begitu lemah. Tetapi, pada saat itulah Kristus justru berteriak, “Eli, Eli, lama sabakthani!” Suara yang begitu keras menggema di awan-awan dan seluruh alam semesta. Saat ini Yesus tidak menyebut Allah sebagai Bapa. Itulah saatnya di mana seluruh dosa manusia ditimpakan kepada-Nya. Ini adalah perkataan Kristus yang tidak mungkin dapat dimengerti secara tuntas. Kita hanya bisa memahami sampai batas bahwa inilah titik akhir dan terjauh dari perjalanan Kristus mencari orang berdosa.

What is Reformed Theology? part 2


Tanpa ingin menggantikan kelima pokok tersebut, Sproul mencoba menjelaskan TULIPdengan diksi yang berbeda, yaitu Radical corruption, Sovereign election, Definite atonement,Effectual grace, Preservation of the saints. Inti yang sama tetapi dengan diksi yang berbeda tersebut tidak serta merta menciptakan sebuah singkatan baru, RSDEP. Di sini Sproul ingin menekankan bahwa singkatan TULIP, meskipun terdengar sangat pas, dapat menimbulkan kesalahpahaman jika tidak dijabarkan secara benar.
Sebagai contoh T untuk Total depravity, yang berarti kerusakan total, memberikan kesan bahwa manusia itu jahat sampai sejahat-jahatnya yang paling memungkinkan, kejahatannya bersifat menyeluruh sampai pada perbuatan yang nampak dari luar sekalipun. Tetapi doktrin tentang kerusakan total ini pada nyatanya tidak berarti demikian. Sebagai contoh, Adolf Hitler yang dikenal sebagai manusia iblis, mungkin saja menyayangi dan dalam beberapa kesempatan berbuat baik kepada ibunya. Sproul menjelaskan masalah ini dengan memakai istilah Radical corruption karena kata radikal (radical) diturunkan dari bahasa Latin radix yang berarti “akar”. Mengatakan bahwa manusia rusak secara radikal berarti bahwa dosa menembus sampai ke akar atau inti seorang manusia, sehingga apa yang keluar darinya pada dasarnya adalah jahat. Sama seperti pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik pula.
Di samping kaya akan nilai-nilai theologis, buku ini menjelaskan Theologi Reformed dari sudut pandang sejarah beserta contoh-contohnya. Ini karena Theologi Reformed tidak dapat dilepaskan dari sejarah. Seseorang yang belajar Theologi Reformed perlu mengerti pergumulan dan pemikiran para tokoh sejarah pada zaman itu yang berjuang mempertahankan kemurnian Firman dari serangan pemikiran sesat yang pernah muncul. Katakanlah Konsili Antiokhia, Nicea, dan Chalcedon yang pernah diadakan untuk membahas Kristologi; perdebatan antara Pelagius dan Agustinus mengenai dosa asal; perdebatan antara Arminianisme dan Calvinisme mengenai keselamatan, dan sebagainya. Sejarah penting bagi kita untuk belajar membedakan mana yang benar dan yang salah.
Kiranya melalui buku ini kita dapat lebih mengerti apa itu Theologi Reformed, yang merupakan buah dan hasil perjuangan selama berabad-abad demi mempertahankan kemurnian firman. Biarlah hati dan pikiran kita boleh terus diisi dengan theologi yang benar, theologi yang berpusat pada Allah dan bukan kepada manusia, theologi yang berdasarkan pada firman Allah yang sejati dan theologi yang sudah selayaknya dipelajari oleh setiap orang Kristen. Soli Deo Gloria.
Kurniawan Prasetya Pieth
Pemuda GRII Singapura


Judul : What is Reformed Theology?
Penulis : R. C. Sproul
Penerbit : Baker Books
Tebal : 236 halaman
Ketika mendengar sebuah pertanyaan klasik, “Apa itu Theologi Reformed?”, kira-kira jawaban apa yang akan kita berikan? Mungkin kita sudah terlalu sering atau bahkan sudah bosan mendengar istilah ini. Sebagian besar dari kita mungkin akan dengan cepat menjawab pertanyaan di atas, “Pokoknya Theologi Reformed itu adalah theologi yang kembali kepada Alkitab”. Memang tidak salah, tetapi apakah kita sungguh sudah mengerti apa itu Theologi Reformed?
Di dalam buku ini, R.C. Sproul memulai dengan sebuah pernyataan sederhana bahwa Theologi Reformed adalah sebuah theologi. Theologi Reformed adalah sebuah theologi dan bukan sebuah agama. Pada abad ke-19, para theolog dan sejarawan membandingkan agama-agama di dunia, mencoba menemukan inti dari agama itu sendiri dan pada akhirnya menyempitkan kekristenan sehingga tidak ada lagi perbedaan yang berarti antara agama dan theologi. Pembelajaran tentang agama telah menggantikan pembelajaran theologi dalam dunia akademis.
Sproul mengatakan bahwa ada perbedaan yang sangat mendasar antara pembelajaran tentang agama dan theologi. Secara sederhana, pembelajaran tentang agama adalah pembelajaran tentang kelakukan manusia sedangkan pembelajaran theologi adalah pembelajaran tentang Tuhan. Agama berpusat pada manusia sedangkan theologi berpusat pada Tuhan. Dengan demikian, perbedaan yang paling mendasar antara agama dan theologi adalah perbedaan antara Tuhan dan manusia.
Lalu timbul pertanyaan, bukankah pembelajaran theologi menyangkut pembelajaran tentang apa yang manusia katakan mengenai Tuhan? Ya, tetapi hanya separuhnya. Kita mempelajari theologi dengan beberapa cara. Pertama, dengan mempelajari Alkitab. Karena Alkitab adalah pernyataan Allah. Alkitab adalah firman Allah (verbum Dei) atau suara Allah (vox Dei). Kebenaran yang dinyatakan berasal dari Allah dan bukan hasil penelitian manusia yang bersifat empiris. Kedua, dengan mempelajari sejarah. Di dalam sejarah theologi kita mempelajari konsili, pengakuan iman, maupun pemikiran-pemikiran theologis dari tokoh-tokoh seperti Agustinus, Martin Luther, John Calvin, dan yang lainnya. Kita mempelajari bagaimana setiap tokoh tersebut mengerti tentang theologi dan bagaimana mereka telah belajar tentang Tuhan. Ketiga, dengan mempelajari alam. Melalui alam manusia dapat mengetahui adanya Sang Pencipta dan menyadari bahwa dirinya adalah ciptaan. Allah mewahyukan diri-Nya melalui alam dan wahyu tersebut bersifat umum karena diberikan secara universal kepada setiap manusia.
Pendekatan-pendekatan ini mengisyaratkan adanya sebuah pembelajaran theologi ketimbang pembelajaran atau analisis agama. Ketika pencarian manusia ini bertujuan untuk mengenal Allah, ini adalah theologi. Tetapi jika pencarian tersebut hanya sebatas usaha manusia berespons terhadap theologi, ini adalah agama.
Lalu, bagaimana dengan Theologi Reformed? Sproul membahas Theologi Reformed secara tajam, komprehensif, dan kaya akan nilai-nilai theologis. Buku ini menjadi dua bagian pokok.
Pertama, fondasi Theologi Reformed yaitu berpusat pada Allah, berdasarkan pada firman Allah dan iman kepada Yesus Kristus. Di bagian pertama ini dijelaskan secara mendalam mengenai ciri-ciri Theologi Reformed; natur atau karakter Allah; inspirasi dalam penulisan Alkitab, Alkitab yang tidak dapat salah sekaligus tidak bersalah (infallibility and inerrancy of Scripture), otoritas dan interpretasi Alkitab; perbandingan antara pandangan Roma Katolik dan Reformed mengenai pembenaran manusia berdosa (justification); jabatan Yesus sebagai raja, imam, dan nabi; theologi perjanjian (covenant theology) yang mencakup perjanjian akan penebusan, pekerjaan, dan anugerah (covenant of redemption, works and grace).
Kedua, lima pokok Calvinisme. Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika seseorang mempelajari Theologi Reformed berarti ia tidak dapat tidak mempelajari lima pokok ini, yang sering dikenal dengan singkatan TULIP (Total depravity – kerusakan totalUnconditional election –pemilihan yang tidak bersyaratLimited atonement – penebusan yang terbatasIrresistible grace – anugerah yang tidak dapat ditolakPerseverance of the saints – pemeliharaanAllah akan orang-orang kudus-Nya).