Kemudian Kristus mengatakan, “Aku haus!” Ini merupakan perkataan Kristus yang sulit untuk dijelaskan. Pdt. Stephen Tong memulai bab ini dengan berbagai pertanyaan yang membuat kita semakin menyadari besarnya tantangan dalam memahami kalimat ini. Apakah arti dari perkataan ini? Siapa yang berkata? Kepada siapa? Apakah Kristus sedang meminta minuman untuk melepaskan dahaga-Nya? Mengapa Kristus yang menjanjikan air hidup, sekarang mengatakan hal ini? Bukankan ini paradoks? Namun kenyataannya, tidak ada jawaban mengenai perkataan Yesus ini. Sebab ini bukan merupakan permintaan, ini adalah suatu pernyataan! Perkataan ini menunjukkan kemanusiaan Kristus dan penderitaan yang sungguh-sungguh. Tidak ada seorang pun yang mampu mengerti kehausan macam apa yang dialami Kristus. Keadaan haus yang tidak terbayangkan ini harus dialami Kristus agar Ia dapat menjadi air hidup yang sesungguhnya. Siapa pun yang haus, hendaklah Ia datang kepada Kristus. Pernyataan “Aku haus” adalah seruan kehausan yang menghentikan segala kehausan.
Setelah itu Ia mengatakan, “Tetelesthai!” Setelah menjalankan ketaatan menuju kesengsaraan terakhir di Golgota, harus dimengerti bahwa Golgota bukanlah titik akhir perjalanan Kristus, melainkan suatu proses menuju kebangkitan. Yesus baru dapat mengatakan tetelesthai setelah mengatakan Eli Eli lama sabakthani, setelah mengalami sengsara dan kematian. Kalimat keenam ini menyatakan kemenangan total. Karena Kristus yang taat maka barangsiapa menerima Kristus akan diterima oleh Allah. Saat Kristus mengucapkan kalimat inilah, Allah Bapa melihat ketaatan tuntas dari Hamba-Nya yang mengganti dosa manusia.
“Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Inilah kalimat terakhir dari Kristus ketika terpaku di atas kayu salib. Jadi, jelaslah bahwa jiwa Kristus bukan dirampas dan ditelan kematian. Ia secara aktif menyerahkan nyawa-Nya.
Jadi, sudah jelas bahwa tema utama dari buku ini adalah membahas tulang sumsum ajaran Kristen, yakni kematian Kristus di atas kayu salib. Dengan demikian, buku ini wajib dimengerti oleh setiap orang percaya. Biarlah kita semakin menyadari signifikansi arti kematian Kristus di atas kayu salib, memahami setiap detail dari arti peristiwa yang terjadi pada saat penyaliban, dan dapat mengaitkannya dalam kehidupan kita. Pada akhirnya kita akan semakin gentar akan keadilan Tuhan, meninggikan cinta kasih Tuhan, dan saling menanggung beban serta resiko di hadapan Tuhan seumur hidup.
Juan Intan Kanggrawan
Pemuda GRII Singapura
Tidak ada komentar:
Posting Komentar