Salib adalah suatu simbol penderitaan, kehinaan, dan kutukan pada zaman Tuhan Yesus. Salib sering dipakai untuk menghukum mati penjahat-penjahat besar. Suara makian, umpatan, dan jeritan merupakan hal yang lumrah dan kerap kali terdengar dari mulut orang yang disiksa di atas kayu salib. Namun, Alkitab mencatat bahwa ketika Kristus disalibkan, Ia mengucapkan tujuh kalimat yang sangat berbeda dengan yang pada umumnya dilontarkan oleh orang yang tersiksa di atas kayu salib. Melalui buku “7 Perkataan Salib” ini, Pdt. Dr. Stephen Tong mengupas secara mendalam arti dari setiap kalimat yang keluar dari mulut Kristus pada momen tersebut sehingga kita dapat semakin memahami keagungan jiwa dari Yesus Kristus dan kebesaran rencana penebusan Allah.
Di saat paling lelah secara fisik setelah tidak tidur semalaman, di dalam keadaan paling sengsara di mana sudah begitu banyak darah yang keluar dari tubuh-Nya, di saat paling tersendiri di mana seluruh keadilan, moral, dan politik menjadi gelap, terdengarlah perkataan-Nya yang pertama, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Perkataan pertama yang diawali dengan “Bapa” menunjukkan hubungan yang erat dengan Allah Bapa di surga. Dari kalimat ini, Ia juga menyatakan sifat Allah yang adalah kasih dan adil: cinta kasih yang sanggup membalikkan dan menghentikan murka Allah atas orang berdosa, dan keadilan yang menyatakan hukuman dan murka Allah atas dosa.
“Amin! Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di Firdaus.” Inilah kalimat kedua yang merupakan pernyataan Kristus terhadap pertobatan seorang perampok yang pada awalnya menghina Kristus. Kerap kali ketika kita membaca peristiwa ini, kualitas iman perampok ini tidak begitu kita perhatikan. Namun, buku ini menyatakan sesuatu yang sangat menarik. Jika dibandingkan dengan pengertian para rasul, maka pengertian perampok ini akan Kristus jauh lebih mendalam. Di saat sebagian besar rasul melarikan diri, perampok ini melihat kemuliaan dalam kekekalan Kristus dan mengetahui bahwa Kerajaan-Nya pasti datang. Pertobatan perampok ini juga semakin menegaskan bahwa dasar keselamatan yang diterima semata-mata adalah karena anugerah Allah, bukan karena hidup keagamaan dan jasa manusia.
Perkataan ketiga yang disampaikan Yesus di atas kayu salib adalah ketika Ia melihat para wanita, termasuk ibu-Nya, Maria, dan Yohanes yang berada di dekat-Nya. Yesus memandang kepada ibu-Nya, lalu berkata, ”Wanita, inilah anakmu.” Dalam hal ini, Yesus memilih istilah yang tepat. Yesus adalah pencipta semesta, termasuk Maria dan Yohanes. Kristus sebagai pencipta memberikan perintah kepada ciptaan-Nya. Kemudian, Yesus berpaling kepada Yohanes dan berkata, “Inilah ibumu.” Apakah arti dari perkataan Yesus kepada Yohanes? Artinya adalah agar setiap dari kita yang sudah menyadari akan cinta Tuhan, juga menanggung suatu beban tanggung jawab daripada Tuhan. Orang Kristen yang belum mengalami salib hanya mau kedudukan, tetapi setelah mengalami salib dan cinta Tuhan Yesus, ia meninggikan cinta kasih Tuhan dan menanggung beban serta resiko di hadapan Tuhan seumur hidup.
Setelah luka-luka yang mengalirkan darah begitu banyak, menganga, dan terpanggang sinar matahari sekian lama, maka sudah seharusnya tubuh menjadi begitu lemah. Tetapi, pada saat itulah Kristus justru berteriak, “Eli, Eli, lama sabakthani!” Suara yang begitu keras menggema di awan-awan dan seluruh alam semesta. Saat ini Yesus tidak menyebut Allah sebagai Bapa. Itulah saatnya di mana seluruh dosa manusia ditimpakan kepada-Nya. Ini adalah perkataan Kristus yang tidak mungkin dapat dimengerti secara tuntas. Kita hanya bisa memahami sampai batas bahwa inilah titik akhir dan terjauh dari perjalanan Kristus mencari orang berdosa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar