Senin, 29 April 2013

Reformed And History part 1


NREC Sesi ke-3, 28 Desember 2004

Di dalam sejarah Reformasi, Tuhan membangkitkan dua orang, yang satu untuk merobohkan yang salah dan yang satu untuk membangun yang benar. Tuhan memakai Martin Luther untuk merobohkan yang salah dan Johanes Calvin untuk membangun yang benar. Ini yang disebut sebagai Reformed.
Johanes Calvin mengadopsi beberapa prinsip paling besar Martin Luther, yaitu: pertama,Sola Scriptura (Hanya Alkitab). Artinya kita jangan melihat filsafat lebih tinggi dari Kitab Suci, atau psikologi lebih tinggi dari Kitab Suci. Jangan melihat pendidikan lebih tinggi dari Theologi atau melihat politik lebih tinggi dari Theologi. Banyak pemerintah, demi kelancaran pemerintahan, ingin semua agama berada di bawah mereka. Mereka mau menjadi allahnya Allah. Dari sejarah kita belajar bahwa semua politikus menganggap semua agama harus taat kepada dia, termasuk Komunisme sekarang.
Prinsip yang kita pegang ini adalah prinsip yang ada pada jiwa orang-orang seperti Yesaya, Yeremia, Daniel, Yehezkiel, Yohanes Pembaptis, dan Paulus. Yesaya dipanggil pada waktu raja Uzia wafat. Yesaya masuk ke Bait Allah dan melihat Allah duduk di atas takhta-Nya, dan kemuliaan-Nya memenuhi seluruh bumi. Inilah iman Kristen. Tuhan lebih tinggi dari presiden. Tuhan lebih tinggi dari Mao Zedong. Siapa yang engkau sembah atau layani? Engkau kelihatan seperti menyembah Tuhan, tetapi ekor hatimu bergoyang-goyang untuk mencari kesenangan manusia, maka engkau bukan Reformed, mungkin hanya anggota Gereja Reformed. Demikian Yehezkiel, Daniel, satu persatu dianiaya dan Yohanes Pembaptis dipenggal kepalanya, karena mereka mempertahankan kedaulatan Allah, takhta Yahweh, kuasa Raja di atas segala raja. Ini ajaran Reformed. Hanya Alkitab saja. Jangan Alkitab dicampuri filsafat dan jangan menafsirkan Alkitab melalui psikologi. Alkitab harus independen. Sola Scriptura berarti jangan mengerti Alkitab melalui politik, jangan menafsir Alkitab melalui teori-teori manusia.
Prinsip Reformed kedua: Sola Gratia (Hanya Anugerah). Kita diselamatkan hanya berdasarkan anugerah tanpa sedikit pun jasa manusia. Di dalam gereja jangan ada orang berpikir kalau tidak ada dia, gereja akan roboh. Kalau seorang merasa berjasa, ia mengajak Tuhan bekerja sama. Tuhan memberi anugerah dan saya mengeluarkan iman, maka ada kerjasama. Tidak! Semua adalah anugerah, termasuk kita bisa beriman pun adalah karena Firman Tuhan ditanamkan di dalam hati kita dan akhirnya Firman yang menjadi benih menghasilkan buah yang namanya iman. Jadi semua merupakan anugerah Tuhan.
Kita bisa berkhotbah adalah anugerah Tuhan, kita bisa main piano adalah anugerah Tuhan, kita bisa melayani adalah anugerah Tuhan. Kita bisa menjadi majelis adalah anugerah Tuhan, kita bisa bersaksi adalah anugerah Tuhan, kita bisa pergi menginjili adalah anugerah Tuhan. Kita masih hidup adalah anugerah Tuhan, kita masih sehat adalah anugerah Tuhan. Kalau Tuhan marah, satu detik saja cukup untuk menghanguskan dunia ini, dan menjadikan kita ini debu. Tidak ada orang yang patut sombong. Orang kaya jangan bermegah karena kekayaannya, orang pintar jangan bermegah membanggakan kepintarannya, orang berkuasa jangan membanggakan jabatannya. Perkataan nabi Yeremia ini dia simpulkan dalam satu kalimat: “Jikalau engkau bermegah, bermegahlah demi Tuhan” (Yer. 9:23-24). Ini ayat-ayat yang dikutip oleh Paulus di dalam Roma: “Barangsiapa bangga, banggalah dengan menuju kepada Tuhan, waktu engkau menunjuk, menunjuklah kepada Tuhan karena kita sadar bahwa tidak ada yang bisa kita banggakan.“
Tiga prinsip yang mendasari konsep anugerah: 1) Tidak ada jasa manusia sedikit pun; 2) Tidak ada perbuatan baik, dan 3) Tidak ada kelayakan pada diri manusia. Anugerah hanya berdasarkan bijaksana, kedaulatan, rahasia, kemurahan Tuhan dan kerelaan-Nya mau membagikan anugerah kepada siapa Ia mau memberi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar